Struktur isi Cerpen :
1. Judul
2. Pengenalan Tokoh
3. Komplikasi (Penyebab Konflik)
4. Konflik
5. Penyelesaian
6. Amanat
Ada dua tipe cerpen, yaitu cerpen yang ditulis dengan sempurna disebut well made short-story dan cerpen yang ditulis tidak utuh disebut slice of life short-story. Tipe pertama adalah cerpen yang ditulis secara fokus yaitu: satu tema dengan plot yang sangat jelas dan ending yang mudah dipahami. Cerpen tersebut pada umunya bersifat kovensional dan berdasar pada realitas /fakta. Maka cerpen tipe ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami. Pembaca awam dapat membaca cerpen jenis ini kurang dari satu jam.
Sebaliknya, cerpen tipe kedua, yaitu slice of life short-story, tidak terfokus temanya, memencar, sehingga plot tidak terstruktur. Plot(alur) ceritanya kadang dibuat mengambang oleh pengarang.nya. Pada umumnya,cerpen jenis ini ditulis dengan gaya kontemporer dan bersumber dari ide atau gagasan murni, maka disebut juga dengan cerpen gagasan. Dengan demikian, cerpen tipe ini seringkali sulit dipahami sehingga perlu dibaca berulang-ulang.Pembaca karya seperti itu adalah kalangan tertentu yang memang paham akan karya-karya sastra.
Cerpen tipe mana pun, yang ditulis sebagai cerpen standar, cermin(flash) maupun cerpen mempunyai beberapa persamaan:
1. Bercerita tentang manusia atau sesuatu yang dimanusiakan
2. Menyajikan satu (tunggal) peristiwa(lampau, sekarang atau yang akan datang)
3. Jumlah tokoh yang ditampilkan satu atau paling banyak tiga orang.
4. Kurun waktu peristiwa sangat terbatas.
5. Pada umumnya, karya dipublikasi di media-massa sebelum diterbitkan dalam bentukkumpulan cerpen.
6. Mengandung elemen plot, sudut pandang, tokoh/pelaku, dialog, konflik, setting dan suasana hati (mood/atmosphere)
Adapun didalam menuliskan sebuah cerpen ada beberapa teknik yang dapat diterapkan yakni:
1. Paragraf pertama yang mengesankan Paragraf pertama adalah kunci pembuka. Cerita pendek adalah karangan pendek, paragraph pertama bisa segera masuk pada pokok masalah, serta bukannya melantur pada perihal yang klise terlebih apabila lantas terkesan menggurui. Perihal tersebut pastinya cuma menyebabkan kebosanan serta rasa apatis untuk pembacanya.
2. Menggali suasana Melukiskan satu latar terkadang membutuhkan detil yang agak apik serta kreatif. Penggambaran situasi yang biasa-biasa serta telah dikenal umum tak lagi menarik untuk pembaca. Bila akan melukiskan situasi kota jakarta dengan gedung-gedung yang tinggi, kesemerawutan jalan raya, serta keramain kotanya, penggambaran itu tidaklah menarik dikarenakan penggambaran tersebut bukan hanya adalah perihal yang baru. Walau demikian, apabila melukiskan situasi kota jakarta kaitkannya pada situasi hati tokoh ceritanya penggambaran itu lebih menyentuh pembacanya.
3. Menggunakan kata-kata efektif dan efisien yaitu kata- kata yang segera berikan kesan pada pembacanya. Gunakan kata-kata efisien, pembaca diinginkan bisa lebih mudah menangkap maksud dari tiap-tiap sisi cerita sampai tamat. Tak hanya menggunakan kata-kata efisien pengarang juga dituntut untuk mempunyai kekayaan kosakata serta style bhs supaya cerita yang dibuatnya bisa mengalir dengan lancer serta tidak kering dan menjemukan.
4. Menggerakkan tokoh ( ciri-ciri ) Didalam cerita senantiasa ada tokoh. Tokoh-tokoh yang ada selalu bergerak dengan fisik atau psikis sampai terlukis kehidupan yang sama juga dengan kehidupan sehari-hari.
5. Konsentrasi cerita Didalam cerita pendek, semua wujud mesti fokus pada satu masalah pokok.
6. Sentakan akhir Cerita mesti diakhiri jika masalah telah dikira selesai. Kecenderungan cerita- cerita mutkhir yaitu sentakan akhir yang bikin pembaca ternganga serta penasaran. Yang jelas, teks cerita pendek telah berakhir sebagaimana dikehendaki pengarangnya.
Kalian dapat mengamati cerpen yang disusun terstruktur sedemikian rupa, sehingga pembaca dengan mudah menggali tema yang dikemukakan pengarang. Struktur cerpen dimulai dengan abstrak, diikuti oleh orientasi, menuju komplikasi, kemudian evaluasi menemukan resolusi, serta bagian akhir teks cerpen ditutup oleh koda.
Struktur Cerita Pendek :
- Abstrak (pilihan) : Inti cerita yang akan dikembangkan.
- Orientasi : Pengenalan latar cerita (biasanya meliputi 5 W + I H)
- Komplikasi : Urutan kejadian yang dihubungkan secara sebab akibat, maksudnya dibagian ini terdapat konflik dan menuju sebab konflik dan akibatnya apa.
- Evaluasi : Diarahkan pada pemecahan masalah.
- Resolusi : Solusi dari konflik.
- Koda (pilihan) : Nilai-nilai yang bisa dipetik oleh pembaca dari cerpen yang dibaca.
Pembagian Cerpen
Pembagian cerpen menurut jumlah kata
Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata.
Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni :
- Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.
- Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.
- Cerpen panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah. Cerpen. Jenis ini banyak ditulis oleh cerpenis Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa pada kurun waktu 1940-1960 (Pranoto, 2007:13-14).
Cerpen Menurut Teknik Mengarangnya
1. Cerpen sempurna (well made short-story). Cerpen yang terfokus pada satu tema dengan plot yang sangat jelas, dan ending yang mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta). Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya. Pembaca awam bisa membacanya dalam tempo kurang dari satu jam.
2. Cerpen tak utuh (slice of life short-story). Cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot (alurnya) tidak terstruktur, dan kadang-kadang dibuat mengambang oleh cerpenisnya. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang orisinal, sehingga lajim disebut sebagai cerpen ide (cerpen gagasan). Cerpen jenis ini sulit sekali dipahami oleh para pembaca awam sastra, harus dibaca berulang kali baru dapat dipahami sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau cerpen berat.
Cerpen Menurut Tahap Penulisannya
Tahap penulisan cerpen menurut Sumardjo (2001:70), adalah sebagai berikut.
1. Tahap persiapan
2. Tahap inskubasi
3. Tahap inspirasi
4. Tahap penulisan
Dari pendapat ahli di atas, penulis dapat mengulas bahwa dalam tahap penulisan cerpen seorang harus mematuhi tahap-tahap yang telah disediakan yaitu persiapan, tahap inkubasi, tahap enspirasi dan selanjutnya tahap penulisan. Dilakuknnya tahapan-tahapan ini supaya pengarang mudah dalam melakukan penulisan.
Tujuan Menulis Cerpen
Tujuan menulis cerpen menurut seorang ahli adalah sebagai berikut:
Ø Memberikan informasi
Ø Mencerahkan jiwa
Ø Ekspresi diri
Ø Mengedepankan idealisme
Ø Mengemukakan opini
Ø Menghibur
Dari tujuan menulis cerpen di atas, dapat penulis ulas bahwa tujuan menulis cerpen adalah untuk memberikan iformasi kepada pembaca, mencerahkan jiwa pengarang dan pembacanya, mengekspresikan diri pengarang, mengedepankan idealisme pengarang, mengemukakan opini, dan menghibur pengarang atau menghibut pembaca.
Manfaat Menulis Cerpen
Beberapa manfaat menulis cerpen secara umum yaitu sebagai berikut:
1. Melatih kita berani mengekspresikan diri melalui kata-kata tanpa harus ada partner bicara secara langsung.
2. Menuntun kita memasuki dunia seni yang menjanjikan keindahan yang melebihi logika dan kata. 3.Memampukan kita saying one thing and meaning another thing dapat menyampaikan makna ganda yakni yang tersurat dan tersirat.
Manfaat menulis cerpen menurut Yunus (2002:4) dalam Nugroho (2009), adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kecerdasan
2. Meningkatkan daya inisiatif dan kreatif
3. Menumbuhkan keberanian
4. Mendorong kemauan
Dari manfaat menulis di atas, penulis dapat mengulas bahwa manfaat dari menulis adalah untuk meningkatkan kecerdasan, meningkatkan kemampuan dalam berkarya, menumbuhkan kebernian untuk mengeluarkan ekspresi dirinya, dan juga dapat mendorong kemauan seseorang utnuk melakuan penulisan. Lain halnya dengan pendapat ahli di bawah ini yang menyatakan bahwa manfaat menulis cerpen yaitu, Nuryatin (2008), dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX/HISKI mengatakan bahwa keterampilan menulis karya sastra akan dapat dijadikan bekal Life Skill bagi para siswa yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai satu mata pencaharian. Dari pernyataan di atas, penulis dapat mengulas bahwa manfaat menulis cerpen dalam pandangan Nuryatin adalah untuk mengembangkan kemampuan para siswa dalam berkarya, dan suatu saat dengan karya tulisnya itu dapat menjadikan sebuah mata pencaharian.
Jadi, dari beberapa pendapat mengenai manfaat menulis cerpen, penulis dapat menyimpulkan manfaat penulisan cerpen itu ialah sebagai berikut:
a. Menambah wawasan
b. Menambah daya kreatifitas
c. Menambah keberanian dalam mengekspresikan ide
d. Mendorong kemauan berkarya
Cara atau Langkah-langkah Membuat Cerpen
Berikut ini adalah tahap-tahap penulisan cerpen:
1. Menentukan tema cerpen. Tema merupakan permasalahan dasar yang menjadi pusat perhatian dan akan diuraikan agar menjadi jelas. Tema sangat berkaitan dengan amanat/ pesan/ tujuan yang hendak disampaikan kepada diri pembaca.
2. Mengumpulkan data-data. Mencari keterangan, informasi, dokumen yang terkait dengan peristiwa/ pengalaman yang menjadi sumber inspirasi cerita.
3. Menentukan garis besar alur atau plot cerita. Secara bersamaan dengan tahap ini, menciptakan tokoh dan menentukan latar cerita.
4. Menetapkan titik pusat kisahan atau sudut pandang pengarang.
5. Mengembangkan garis besar cerita menjadi cerita utuh.
6. Memeriksa ejaan, diksi, dan unsur-unsur kebahsaan lain serta memperbaikinya jika terdapat kekeliruan.
No comments:
Post a Comment