Tuesday, February 2, 2016

Berikut ini adalah adalah Kumpulan Cerpen Anak :

1. asal usul siang dan malam:

Pada zaman dahulu, belum ada siang atau malam di bumi. Matahari dan Bulan tidak muncul secara teratur. Mereka sama-sama merasa lebih baik dari yang lain. Bulan dan Matahari saling berebut untuk muncul di langit bumi. Pertengkaran antara Matahari dan Bulan acap kali terjadi. “Bulan, sebaiknya kamu pergi saja, karena aku lebih baik darimu. Lihat, bumi menjadi terang dan manusia bisa melakukan kegiatannya.” kata Matahari kepada Bulan. “Bukankah kamu yang sebaiknya pergi. Kalau aku muncul, manusia bisa beristirahat dan tidak kepanasan.” bantah Bulan.

“Hei Bulan, coba kamu pikir, kalau tidak ada aku, manusia akan tiduuuur terus, tidak bisa bekerja karena gelap. Kalau manusia tidak bisa bekerja, bagaimana mereka mencari makan?” Matahari semakin marah.

“Matahari, sudahlah. Kamu tidak bisa menyangkal kalau aku lebih indah darimu.  Aku bisa muncul dengan berbagai bentuk, kadang bulat penuh, berbentuk sabit, atau setengah lingkaran. Lagipula kalau aku muncul, teman-temanku si Bintang selalu mau menampilkan wajah cantiknya kepada manusia. Lihat saja bentukmu, monoton, hanya berbentuk lingkaran saja.” Bulan berusaha meyakinkan Matahari.

“Apa indahnya kalau bumi tetap gelap. Bagaimanapun juga akulah yang lebih dibutuhkan manusia, bukan kamu!Karena sinarku tumbuh-tumbuhan bisa hidup, sehingga manusia bisa makan buah-buahan dan sayur-sayuran.” kata Matahari.

“Tetap saja bumi akan terlalu panas kalau kau muncul. Manusia tidak bisa tidur dengan nyaman. Apa untungnya terus bekeja tanpa istirahat, bisa-bisa seluruh manusia akan mati.” Bulan tidak mau kalah.

Begitulah setiap saat, Matahari dan Bulan selalu bertengkar. Karena mereka saling berebut muncul, bumi berubah-ubah dengan cepat. Kadang-kadang terang, tetapi sesaat kemudian menjadi gelap.  Manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan tidak bisa hidup dengan tenang. Manusia menderita karena tidak bisa bekerja dan beristirahat dengan nyaman.

Manusia merasa sedih sekali. Karena terus menderita, manusia berdoa kepada Tuhan agar Bulan dan Matahari tidak bertengkar lagi. Doa tersebut terdengar oleh Bulan dan Matahari. Mereka pun sadar bahwa mereka diciptakan untuk memberikan kebahagiaan kepada manusia.

“Matahari, manusia semakin menderita karena ulah kita. Aku minta maaf. ya” kata Bulan.

“Betul Bulan. Aku juga minta maaf. Sebaiknya kita berbagi tugas. Aku muncul setengah hari, kamu juga muncul setengah hari.” kata Matahari.

“Baiklah Matahari, aku setuju.” Bulan mengiyakan usul Matahari.

Akhirnya, Matahari dan Bulan berbaikan. Mereka muncul secara teratur dan bergantian. Manusia tidak lagi menderita. Mereka sekarang bisa mengatur waktu untuk bekerja dan beristirahat. Manusia lalu memberi nama siang untuk waktu terang dan malam sebagai waktu gelap di bumi.

2. Lihatlah Dirimu Sendiri

" Dibeli - Dibeli Ibu, Bapak, teman - teman donatnya " Ucap Hana deny an lantang dan tentu saja dengan senyuman. ternyata Hana sedang berjualan di bazar sekolah. Tiba -tiba Sisi,murid yang selalu mengatakan bahwa ayahnya seorang dokter. Datang dan langsung berkata dengan nada sombong " haha .. Lagi jualan na ? jualan apa ? " . Hana menjawab dengan sabar " Donat. Kamu mau beli ? Ada promo lho .. Beli 2 dapat 1 lagi gratis" " tidak, terima kasih. Aku kurang suka donat pinggiran .. Aku hanyal makan donat di toko donat ternama " balas Sisi dengan nada lebih sombong lagi. Bazar selesai Hana-pun segera pulang.

Sepilang dari Bazar Hana langsung mandi dan membeli bahan - bahan untuk membuat donat untuk membuat donat yang setelah itu dijual. 
Di tengah pasar Hana mencari penjual bahan - bahan kue tetapi ada kejutan di pasar yaitu .. Hana bertemu dengan Sisi ! Disana Sisi menjual plastik - plastik . Hana-pun menghampiri Sisi dan berkata " hai Sisi Boleh beli plastik bening 1 tidak ? Sebab aku lupa membawa plastik bening " . Sisi melihat wajah pembelinya. Sisi terkejut dan dia segera meminta maaf karena sudah mengejek Hana dan segera mengambilkan plastik yang Hana inginkan dan tentu saja setelah itu Hana membayar plastiknya. Dan Sisi-pun tidak mengejek Hana lagi.

3. Mili dan Kolam permintaan

Mili dan Kolam Permintaan karya : Pocut Shafira Putri Aurora Hei namaku Mili. Sekarang aku duduk di kelas 3 SD. Aku tidak terlalu pandai dalam pelajaran matematika. Bukannya aku sombong tetapi memang nilaiku di atas rata rata kelas kecuali pelajaran metematika. Kadang nilai metematikaku pas sekali dengan KKM dan kadang hanya lebih beberapa angka. Itulah yang membuatku selalu ranking 3. tetapi aku tetap bersyukur karena selalu masuk 3 besar. Pada saat istirahat aku lihat semua anak perempuan berkumpul di depan kelas. Aku pun ikut berkumpul bersama yang lain. Ternyata temanku yang bernama Lily bercerita tentang kolam permintaan. Aku mendengar baik - baik apa yang dikatakan Lily. Aku sangat takjub ketika mendengar cerita Lily tentang seseorang bernama Lala belemparkan koin ke kolam permintaan serta menyebutkan permintaannya yaitu nilai ujiannya selalu bagus dan benar nilainya selalu bagus. 

Lily juga berkata kolam permintaan itu berada di jalan Raya Jakarta. Nah jalan Raya Jakarta ini dekat dengan rumahku. Sepertinya nanti sore aku akan pergi kesana. "Assalamualaikum.." ucapku didepan pintu gerbang rumahku sepulang sekolah "Waalaikumsalam" ucap mama sambil membuka pintu gerbang. "Ma nanti aku keluar rumah dulu ya sehabis mandi" ucapku sangat bersemangat "Boleh tapi kamu mau kemana li ?" tanya mama. "Ke kolam permintaan ma .. cuma butuh 1 keping koin kok" ucapku sambil mengedipkan sebelah mata. " ,e,eamg apa permintaanmu ? "Aku ingin nilai matematikaku selalu bagus .. besok kan juga ada tes matematika" ucapku agak santai "Ok tapi ingat dirumah ini ada peraturan 'selalu belajar pelajaran setiap sore - malam khususnya yang menjadi materi ulangan di esok hari '" ucap mama sambil berjalan menuju pintu rumah. "Ok ma .." ucapku Aku sudah sampai di kolam permintaan aku siapkan koin serta segera mengatakan permintaanku dan aku lemparkan koinku. Aku sangat senang aku segera pulang ke rumah sengan senyuman senang Sesampainya di rumah mama menyuruhku duduk di meja belajarku dan membaca buku catatan mengerjakan soal matematika sebenarnya ini yang kusebut belajar. Kegiatan ini ku jalani dengan sungguh sungguh. Aku belajar matematika sampai malam tetapi aku tetap senang Hari ini hari bersejarah bagiku karena aku akan mengahadapi ulangan matematika. walau pun itu hanya mengulang tetapi di matematika itu perlu ketelitian. 

Pak Tono memasuki kelas dan mengucapkan salam lalu membahas sedikit materi matematika setelah itu membagikan soal tes. Jantungku berdetak kencang. Kubaca doa dan segera mengerjakan soal. Semua soal kukerjakan dengan teliti. Ketika ku sudah selesai kuhitung ulang hasil jawaban ulangan matematikaku. walau aku aku mengumpulkan paling terakhir tetapi yang penting semuanya betul. Lalu Pak Tono mengatakan bahwa ia akan membagikan hasil nilai matematika besok. Jantung ku semakin berdetak kencang karena besok matematika adalah pelajaran pada jam pertama. Sudah lama kumenunggu saat - saat ini. Hari ini dibagikan hasil nilai tes matematika. Pak Tono memasuki kelas jantung berdetak kencang lagi. Murid - murid yang piket ditugaskan untuk membagikan hasil tes matematika oleh Pak Tono. Kebetulan Lily mendapat giliran piket dia membagikan nilai ulangan matematikaku. Dia mendekatiku dan membisikiku " Nilaimu hebat " lalu dia memberikanku nilai matematikaku dan ternyata nilaiku adalah .. sembilan koma sembilan (9,9) aku hanya salah satu soal setelah ku lihat .. jawabanku tidak salah. Aku mengatakan hal itu pada Pak Tono dan Pak Tono menjawab "Oh ya li maaf ya.. jawabanmu itu benar bapak akan segera mengubah nilaimu " ucap Pak Tono aku sangat senang Sesampainya di rumah aku langsung mengucap salam dan langsung memeluk mama aku mengatakan tentang nilai ulangan matematikaku. 

Mama sangat senang begitu pula aku dan tiba tiba mama berkata " apa kamu berpikir bahwa ini karena kolam permintaan " "ya" ucapku bersemangat "sebenarnya itu bukan karena kolam permintaan " ucap mama lagi "terus apa ?" tanyaku kebingungan "itu karena kamu belajar dengan sungguh sungguh" ucap mama lagi. Aku memeandang mama dan berkata "terima kasih ya ma sudah mengajariku " ucapku sambil menangis tanda terima kasih serta terharu dengan kebaikan mama mengajariku matematika. "sama sama" ucap mama sambil tersenyum. Hari bersejarah ini tidak akan kulupakan seumur hidupku

4. Turutilah Kata Orang Tuamu

        Lily Masih saja cemberut dari kemarin. Lily cemberut karena tidak dibelikan kue stroberi di toko kue dekat rumahnya. " Sudahlah nak kan kamu tidak menyukai kue yang rasanya asam campur manis seperti itu .. " Ucap mama tiba - tiba dari belakang. " tapikan ma .. " ucap Lily memiohon " sudahlah tak usah bakas kue itu karena hari ini mama memasak nasi goreng kesukaan-mu. " baiklah .. " ucap Lily tetapi tetap saja dengan wajah cemberut.

        Di meja makan Lily masih saja cemberut padahal ada nasi goreng kesukaannya disana, ibunya, dan ayahnya. Ayah Lily yang melihatnnya langsung berbicara " Sudahlah .. kenapa  dari kemarin kamu cemberut rerus Lily .. " Lilypun menjawab "karena tidak dibelikan kue stroberi di toko kue ". "sudahlah Lily kamu pasti tak suka kue itu karena rasanya asam campur manis .. " ucap ayah Lily lagi. "Tapi aku mau kue itu ! " ucap Lily lagi lalu lalu meninggalkan meja makannya dan pergi ke kamar. Padahal masih banyak nasi goreng tersisa di piringnya.

       Tiba - tiba Mamanya Lily menemui Lily di kamar dan berbicara " Baiklah Lily Mama membelikan Kue Stroberi itu tapi tapi dengan satu syarat " " Apa itu " Ucap Lily "Kamu Harus menghabiskannya " " Ok " ocap Lily sambil mengedipkan sebelah mata. 

        Sesudah membeli kue stroberi Mamanya Lily dan Lily pulang ke rumah. sesampainya di rumah. Sesampainya di rumah Lily langsung melahap kue stroberi itu. Baru setengah kue Lily makan tapi ia sudah berhenti padahal ukurannya tidak besar. Mamanya Lily yang melihatnya langsung berkata " Ingat Syaratnya .. ". Lily diam dan berkata " Ma .. ini terlalu manis dan asam " " Nah .. kan sudah mama bilang .. ". Lily cemberut dan meminta maaf. Maka kue yang setengah dimakan Lily itu dimakan Mamanya Lily karena Mubazir bila dibuang.

5. Semut dan Kepompong
.
Hikmah cerita ini : Sesama makhluk ciptaan Tuhan, janganlah saling mengejek dan menghina, karena siapa tahu yang dihina lebih baik kedudukannya daripada yang menghina

Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. Kraak! terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan dirinya, kecuali si semut yang berlindung di dalam tanah. Badai baru berhenti ketika pagi menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya.

Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah. Si semut bergumam, “Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana”. “Menjadi kepompong memang memalukan!”. “Coba lihat aku, bisa pergi ke mana saja ku mau”, ejek semut pada kepompong. Semut terus mengulang perkataannya pada setiap hewan yang berhasil ditemuinya. Beberapa hari kemudian, semut berjalan di jalan yang berlumpur. Ia tidak menyadari kalau lumpur yang diinjaknya bisa menghisap dirinya semakin dalam. “Aduh, sulit sekali berjalan di tempat becek seperti ini,” keluh semut. Semakin lama, si semut semakin tenggelam dalam lumpur. “Tolong! tolong,” teriak si semut.

“Wah, sepertinya kamu sedang kesulitan ya?” Si semut terheran mendengar suara itu. Ia memandang kesekelilingnya mencari sumber suara. Dilihatnya seekor kupu-kupu yang indah terbang mendekatinya. “Hai, semut aku adalah kepompong yang dahulu engkau ejek. Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku. Lihat! sekarang kau tidak bisa berjalan di lumpur itu kan?” “Yah, aku sadar. Aku mohon maaf karena telah mengejekmu. Maukah kau menolongku sekarang?” kata si semut pada kupu-kupu.

Akhirnya kupu-kupu menolong semut yang terjebak dalam lumpur penghisap. Tidak berapa lama, semut terbebas dari lumpur penghisap tersebut. Setelah terbebas, semut mengucapkan terima kasih pada kupu-kupu. “Tidak apa-apa, memang sudah kewajiban kita untuk menolong yang sedang kesusahan bukan?, karenanya kamu jangan mengejek hewan lain lagi ya?” Karena setiap makhluk pasti diberikan kelebihan dan kekurangan oleh yang Maha Pencipta. Sejak saat itu, semut dan kepompong menjadi sahabat karib.

6. Cinta Tanah Air


Hari ini akan diadakan kemping di leuwi kancra, kabarnya nanti akan ada acara jurit malam. Uh.. Mendengarnya saja aku sudah takut apalagi nanti ya? Oh ya, sebelumnya perkenalkan namaku Iqlima Rodhin kelas V Said Bin Zaid. Yuk, lanjut lagi ke ceritaku.
“Eh, Riva nanti gimana ya acara jurit malamnya?” Tanyaku pada Riva.
“Nggak tau deh tapi nanti katanya guru-guru bakal nyamar jadi hantu.” Jawab Riva.
“Ih.. Nanti serem nggak ya? Habis nanti nggak boleh bawa senter.” Seruku.
“Ya.. Kita berdoa aja, semoga enggak terjadi apa-apa.” Ujar Haditsah.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, kami mulai membuka acara dengan upacara pembukaan. Kami membagi-bagi tugas ada yang mendirikan tenda, mencari air, buat parit, buat rak sepatu, buat tempat cuci piring dan lain lain. Aku kebagian buat parit, ih sebel buat parit ternyata lama juga ya!
“Iq, udah selesai belum buat paritnya?” Tanya Riva padaku
“Belum nih, lama buatnya..!!” Keluhku pada Riva.
“Ya udah kita pinjam cangkul sekalian minta tolong buat parit hehe.” Ujar Riva. “Oh iya, kenapa aku nggak kepikiran ya?” Ujarku seraya pergi mencari cangkul.
Akhirnya semua tugas telah selesai, kami pun bergegas mengikuti kegiatan pramuka. Mulai masak, jajan, nyuci piring dsb. Sampai akhirnya kami membuat api unggun besar sambil melancarkan atraksi-atraksi yang lain. Akhirnya tiba giliran kami, kami sepakat untuk menampilkan yel-yel.
“Edelwise itu kelompokku, edelwise bunga yang abadi, kau dan aku sahabat seperti edelwise, abadi… Edelwise, edelwise, smart, be happy, beautiful and chareful.” Kami menyanyikan yel-yel dengan kompak.
Sampai akhirnya giliran ikhwan kelas kami yang tampil. Mereka tampil seperti cherleders gitu loh, bikin tumpukan sampai ada yang di puncak mainin semaphore. Tapi belum lama setelah itu kolaborasinya berantakan, soalnya pada jatuh. Sontak hal itu membuat kami semua tertawa. Ada-ada aja ya ikhwannya.
Lalu ikhwannya tampil lagi, kali ini mereka membuat terowongan. Beberapa ikhwan yang lain harus bisa lewat terowongan ini dengan loncat.. Hahaha seru sekali kan. Sampai akhirnya di puncak acara kami bakar jagung sambil nyemil-nyemil.
“Eh.. Seru banget ya kempingnya!!” Ujar Haditsah.
“Iya seru banget..!!” Ujar kami serempak.
“Eh.. Nanti jurit malamnya gimana ya?” Tanya Zahira.
Kami semua seketika terdiam.
Uhh, nggak bisa tidur nyebelin banget. Padahal kan sudah jam 11 nanti dibangunin jam 2. Loh kok kayak ada orang makan ya? Ku lihat sekelilingku dan melihat Rahmi, Ica dan Dita makan.
“Ya ampun… Dita jam segini kok masih makan?” Seru Zahira tiba-tiba.
“Habis, nggak bisa tidur ra, ya kan mi, cha?” Tanya Dita minta persetujuan. “Iya tuh bener.” Jawab Rahmi dan Icha.
“Ssstt.. Udah yuk tidur nanti nggak bisa bangun loh.” Ujarku.
Kami pun tertidur sampai akhirnya jam 2 pun tiba. Aku dibangunkankan oleh Haditsah. Kami pun shalat tahajud dan kembali ngobrol-ngobrol. Sambil menunggu giliran kami tiba soalnya kelas 6 dulu, kalau kakak kelas 6 sih sendiri-sendiri mana sambil nggak bawa senter lagi! Ku dengar teriakan kakak kelas yang ketakutan, kami semua merinding. Sampai akhirnya giliran kami tiba.
“Ayo sekarang akhwat kelas V bawa senternya satu aja ya!” Ujar Guruku.
Mendengar hal itu salah seorang temanku menyembunyikan senter kecilnya. Sampai kemudian agak jauh dari tempat semula, senter yang disembunyikan dinyalakan. Aku di bagian paling belakang. Habis pada nggak berani sih! Ku lihat ada sesuatu yang bergerak di atas pohon, langsung saja ku arahkan senterku ke arah itu.
“Ha.. Pak Yoki ketauan!!” Seru kami semua setelah melihat seseorang yang pakai sarung kaya pencuri.
“Curang nih bawa senternya dua!!” Seru Pak Yoki.
Kami dengan serempak tertawa. Setelah itu satu-persatu hantu yang ada kami temukan sampai akhirnya kami tiba di pos 2.
Haha sungguh menyenangkan selama perjalanan karena kami selalu saja menemukan hantu-hantu yang ada.
“Nah sekarang bapak mau nanya bagaimana bukti kalian cinta tanah air?” Tanya Pak Syatir.
“Ehmmm.. Nggak tau deh pak?!” Ujar kami serempak. “Katanya kalian cinta tanah air kan? Coba kalian cium tanah sekarang cepat!!” Seru Pak Syatir.
Dengan enggan kami pun mencium tanah. Tiba-tiba…
“Bodoh kalian semua cinta tanah air itu bisa kalian tunjukkan dengan cara menyukai produk dalam negeri, belajar sungguh-sungguh dan sebagainya! Bukan seperti itu.!” Seru Pak Syatir.
Kami pun diam seketika.. Yah.. Apa boleh buat nasi telah menjadi bubur. Lain kali kami berjanji dalam hati agar hal itu tak terulang lagi. Masa sih nanti kami harus mencium tanah lagi?

7. Arti Sebuah Kejujuran


Di sekolah ternama, ada enam siswi yang bersahabat yaitu Rena, Lia, Desy, Unez, Dinda dan Vony. Mereka sekarang duduk di kelas 9. Suatu hari mereka sedang disibukkan dengan tugas praktik melukis, jam sudah menunjukan 12.30 tetapi mereka belum selesai, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk giliran shalat dzuhur, yang pertama bagian Lia dan Vony.
Setibanya di masjid airnya gak ada jadi mereka turun ke bawah untuk wudhu, karena mukenanya ada satu jadi mereka giliran shalatnya itu pun di bagian kepala mukenanya besar, ketika Lia yang terlebih dahulu tiba-tiba ada Ary (lelaki yang Vony suka) waktu itu Vony jadi salah tingkah apalagi Ary dan teman-temannya masuk masjid untuk shalat, sewaktu Ary lagi wudhu di bawah Vony jadi mengurungkan niatnya untuk tidak jadi shalat walaupun dipaksa-paksa oleh Lia tetapi tetap aja tidak mau dengan alasan mukenanya jelek dan kotor. Lia pun penasaran kenapa Vony jadi begini tidak seperti biasanya.
Waktu itu Lia menyindir Vony “kamu suka ya sama Ary? sampai-sampai gak mau shalat gara-gara mukenanya gini?” dengan gugupnya karena takut ketahuan, Vony bilang tidak. Padahal dari ekspresinya sudah terlihat banget dan itu yang membuat Lia lebih yakin lagi, saat di tempat penyumpanan sepatu hampir saja Lia mengatakan pada semua orang yang tadi terjadi di masjid, namun usaha Lia gagal karena Vony membekap mulutnya dengan kertas yang sedang dipegangnya.
Setelah itu mereka semua berkumpul sambil membicarakan tentang lukisan yang sudah dibuatnya, tetapi tidak dengan Vony, dia sedang menulis di belakang mereka. Tanpa sepengetahuan Vony, Lia membicarakan pada semuanya yang terjadi di masjid, “ehh… tau gak, tadi tuh si Vony gak jadi shalatnya gara-gara malu memakai mukena yang ada di masjid selain itu dia juga malu sama kamu… Ary!” kata Lia. Mereka semua tertawa sambil memandang ke arah Vony, dia pun tidak bisa apa-apa hanya diam dan tertunduk malu, dia tidak habis pikir kalau Lia akan berbuat seperti itu, sekarang yang ada di hati Vony adalah sakit hati dan dendam pada Lia.
Ketika kembali ke kelas Vony duduk sambil tiduran di atas meja, mereka pikir Vony hanya sedang tiduran tetapi ketika Lia melihat ke bangkunya sedang nangis, Lia pun melontarkan kata maafkan beberapa kali tetapi tidak dijawab oleh Vony, kini Lia merasa bersalah dan di situ Lia ikutan menangis. Namun dengan nangisnya Lia, Vony tetap tidak bicara karena sakit hatinya yang terlalu dalam. Memang dari awal Vony tidak pernah bicara sama siapapun kalau Dia suka sama Ary, jadi akibatnya seperti ini. Kalau saja Vony bicara jujur dari awal mungkin teman-temannya tidak akan bilang apalagi mempermalukan Vony di depan semua orang.
Hari demi hari sudah terlewati, tetapi Vony masih menghindar dari mereka. Akhirnya persahabatan yang mereka jalani kini sekarang sudah hancur dan berpisah satu sama lainnya.

contoh cerpen anak sekolah

1. Anjing dan Bayangannya
.
Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.

Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.

2. Pemerah Susu dan Embernya
.
Seorang wanita pemerah susu telah memerah susu dari beberapa ekor sapi dan berjalan pulang kembali dari peternakan, dengan seember susu yang dijunjungnya di atas kepalanya. Saat dia berjalan pulang, dia berpikir dan membayang-bayangkan rencananya kedepan.

"Susu yang saya perah ini sangat baik mutunya," pikirnya menghibur diri, "akan memberikan saya banyak cream untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!"

Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta kebanggaannya.

3. Burung Gagak dan Sebuah Kendi
.
Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air. Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit. Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.

Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Dia lalu mengambil kerikil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat di capai oleh sang burung Gagak

4. Seruling Ajaib
.
Matahari bersinar dengan teriknya. Dimas, Bagas, Satria, dan Ludvi berjalan pulang sekolah menuju rumah Ludvi. Mereka akan mengerjakan tugas kelompok. Saking panasnya, Bagas mengeluh,
“Mataharinya panas banget. Dimas, jajanin es dong.”
“Iya nih. Traktirin, ya… Please…” Satria memasang muka memelas.
“Ah, teman-teman, bentar lagi juga nyampe rumahku. Ntar begitu nyampe aku bikinin es teh, apa es jeruk, es buah, es sandal, terserah deh!” kata Ludvi sambil mengelap keringatnya.
Nampak sebuah mobil, ternyata mobil Doni.
“Hai kawan-kawan!” sapa Doni membuka jendela mobil. “Cepetin jalannya, ya. Dadahh…” seru Doni.
Dimas hanya sebal. “Huh, makanya ajak kami juga dong!”
Sahabat-sahabatnya hanya ikut bersungut-sungut.

Tibalah mereka di rumah Ludvi. Benar, Dimas, Bagas, dan Satria disuguhi minuman es.
“Eh, mana es sandalnya?” canda Dimas
“Ih… Dimas, kamu mau? Sana ambil sandalnya Ludvi. Sana…” sahut Satria bercanda. Mereka tergelak.

Satu jam kemudian, tugas mereka telah selesai.
“Horee… Selesai. Main yuk!” ajak Ludvi senang.
“Ayo ayo,” balas Bagas mewakili sahabat-sahabatnya.
Mereka bermain petak umpet di lapangan. Tiba-tiba, datanglah pembuat onar. Ada Rifki, Abel, Rizal, dan Izzul.
“Heh, kalian. Ngapain main di lapangan kami?!” seru Rifki.
“Ini kan bukan lapangan kalian sendiri!” balas Bagas tak terima.
“Kalo gitu, masing masing beri Rp 5.000,00 ke kami!” kata Izzul.
“Ya nggak bisa,” sahut Dimas tidak terima juga.
Rifki mendorong Dimas hingga terjatuh dan terluka, lalu meninggalkannya. Teman-teman Dimas mengerubungi Dimas.
“Dimas, kamu nggak kenapa napa, kan? Ayo kuobati,” Bagas khawatir.
“Nggak apa kok. Cuma sikuku berdarah.” Dimas menatap lukanya. Namun ia merasa menduduki sebuah benda silinder.
“Ooh… seruling!”
Sahabat-sahabatnya mengerubungi. Dimas memainkan seruling, seketika lukanya sembuh. Semua kaget dan heran,
“Hah?! Lu… lukanya?” Bagas tergagap.
“Mainkan lagi,” pinta Satria.
Dimas melakukannya. Tumbuhan yang tadinya layu menjadi subur.
“Kita harus merahasiakan ini,” kata Ludvi pelan.
Namun Rifki dkk. telah mendengarnya. Mereka sembunyi di balik pohon besar.
“Kita harus mencurinya,” bisik Rizal.
“HARUS BRO!!” seru Abel.
“Diam Bel! Kedengeran nanti” bisik Izzul agak kesal. Tapi, Satria sudah mendengarnya.
“Ada yang mau mencuri seruling ini. Ayo sembunyikan!”
Mereka berlari ke rumah Ludvi. Rifki mengerjar. Namun malah di culik oleh seorang penculik. Kawan-kawannya berteriak.

“RIFKI!!!”
Ludvi yang masih di teras rumah mendengar. Segera ia mengajak teman-temannya menolong.
“Teman-teman, sepertinya Rifki sedang dalam bahaya. Ayo kita tolong!”
“Buat apa sih, Lud? Dia kan udah jahat sama kita!” bantah Bagas kesal pada Rifki dkk. Namun, akhirnya Bagas masih berbelas kasihan. Mereka tiba di lapangan.

“Ada apa dengan Rifki?” tanya Satria bingung.
“Rifki di culik,” sahut Abel sedih. Tak jauh dari situ, Nampak seorang menaiki mobil, ternyata itu penculik Rifki. “I.. itu penculiknya!” seru Rizal marah.
“KEJAAR…!!!” teriak ketujuh anak itu berlari.
“Dimas, seruling!” sahut Izzul sambil berlari.
“Oh iya!” balas Dimas mengeluarkan seruling ajaib dari sakunya.
Dimas memainkannya. Dan seketika itu, sang penculik terangkat ke atas.
“Huwaa… apa ini? Tolong aku! Cepat!” penculik ketakutan
“Serahkan teman kami! Lalu kami lepaskan.” kata Ludvi geram.
“Ya! Baik baik! Aku janji tak akan menculik anak anak lagi. Sekarang turunkan aku.”
“Janji ya!” tegas Izzul menatap tajam penculik.
Dimas berhenti memainkan serulingnya. Sang penculik kabur. Sebelumnya, ia menyerahkan Rifki. Rifki terlihat sangat lega.
“Te… teman teman, makasih ya, sudah nyelamatin aku. Ng… Dimas, dan kawan-kawan, makasih banyak udah nolong aku. Padahal kami sudah jahat sama kalian. Dan maafin kami,” ujar Rifki tulus. “Mau ga jadi sahabat kita?”
“Tentu saja mau, kawan!” Dimas mewakili teman-temannya sambil merangkul Rifki.

Tiba tiba ada anak berlari menghampiri Dimas dkk.
“Hei, kalian yang di sana!” panggil anak itu.
Lalu ia berkata pada Dimas, “Itu seruling milikku. Tolong kembalikan.” serunya sopan dan ramah.
Dimas dan yang lainnya terkejut. Ternyata itu milik anak itu. Dimas memberikan seruling itu ke anak itu yang tadinya seruling itu Dimas genggam.
Anak itu menatap serulingnya.
“Ini peninggalan dari kakekku. Tadi aku membawanya ke sini, ternyata terjatuh. Makasih, kalian sudah menemukannya.”
Sambil memberi senyum, anak itu memperkenalkan dirinya.
“Hai, namaku Novan!” katanya sambil mengulurkan tangan.
Bergantian mereka berkenalan. “Aku Dimas.” “Aku Rifki.” “Bagas.” “Satria.” “Abel.” “Rizal.” “Izzul.” “Aku Ludvi.”
Abel sambil menyengir, ia berkata
“Mau kan Novan jadi sahabat kita?”
Novan tak menyangka, ia senang sekali. Tak ragu ia mengiyakan.
“Mau dong! Aku kan suka punya teman banyak!”

Siang itu adalah siang yang berkesan. Di rumah Ludvi, mereka merayakan permulaan persahabatan mereka.
“Nih, es jeruk seger nya! Ayo ayo di minum. Kita rayain persahabatan kita!” seru Ludvi.
“Es sandalnya?” canda Bagas menirukan Dimas.
Mereka tergelak bebarengan. Sungguh, tak terlupakan selamanya.

Kumpulan cerpan untuk anak- anak tersebut bisa menjadi referensi untuk dalam membarikan cerita pendek dengan nilai positif seperti nasehat, dan nilai moral. Semoga bermanfaat :)



No comments:

Post a Comment